Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts
Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts

Sunday, 13 October 2013

Cerpen : Horror Movie

Hello, Friends!

Ini cerpen keberapaku, yaaaa...?? Ah, gak usah dipikirkan! Yang penting...
C^E^K^I^D^O^T

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

"AAAAAAAAAAAA!" teriakku kencang.
"Za, tenang!" ucap Bunda.
"seram, Bun! Aku melihatnya sedang ingin menerkamku! Itu lebih seram! Aku tidak mau tidur sendiri lagi, Bun!" desisku. "walaupun aku sudah besar," lanjutku terisak.
"tenang, Za! Hantu itu tidak nyata! Itu hanya halusinasi! Percayalah," tegas Bunda. "sekarang kamu tidur dengan Bunda," ajaknya kemudian. Aku mengangguk lalu mengikutinya.

Sejak aku menonton film horror The Conjuring, Mama, serta Insidious, aku jadi penakut dan suka menyendiri. Sikapku berubah, benar-benar 100% berubah. Aku menjadi ... entahlah.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

"HUAAAA!" aku menjerit lagi ketika bangun tidur. "Hantu dalam film Mama! Hantu Mama! Aku melihatnya asli! ASLI!" aduku dengan nafas tak beraturan.
"Riza! Semenjak kamu menonton film horror, kamu benar-benar berubah dan Bunda merasakannya! Mulai sekarang, kamu ada dalam awasan Bunda," omel Bunda sekaligus khawatir.
"i... iya, Bun," sahutku terbata-bata. Bunda memelukku erat.
"maaf sayang, ini kesalahan Bunda karena tidak menjagamu," ucap Bunda disela-sela pelukannya. "sekarang, kamu siap-siap sekolah. Nanti telat, lho," sambungnya memerintah. Aku segera bergegas.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

"jadi, kamu benar melihatnya asli?" tanya Izta meyakinkan.
"benar! Aku sendiri bahkan tidak percaya," kataku menegaskan. "hantu itu seram! Dia ingin menerkamku, padahal seharusnya menerkam Lily...."
"itu hanya halusinasi!" bantah Erty. "jika kamu percaya pada Tuhan dan dirimu sendiri, kamu tak akan terteror hantu dalam halusinasimu. Jangan takut lagi, Za," jelas Erty.
"ta... tapi, aku tidak bisa, Erty... aku benar-benar di teror hantu setiap hari, setiap aku tidur, setiap aku terbangun dari tidurku,..." isakku kesal.
"jangan menangis karena hantu! HANTU TIDAKLAH NYATA!" amarah Erty tak bisa dipadamkan. Ia paling sebal dengan orang yang takut dengan hantu.
Aku terpaksa berbohong demi amarahnya. "aku tidak takut hantu lagi,"
"benarkah? Secepat itu kau terbujuk?" Izta meminta aku mengulang kata-kata.
"ya. Aku tidak takut hantu lagi," ulangku.
"oke. Kau meluapkan amarahku. Ingat pesanku, 'hantu tidaklah nyata'," Erty menegaskan kata-katanya. Aku menelan ludah. Bagaimana kalau aku ketahuan berbohong?
"BU TIRTA DATANG!" beri tahu Richard heboh. Semua anak berlari kebangku masing-masing, tak terkecuali Izta dan Erty yang duduk di bangkuku.
"jangan melupakan kata-kataku," tegas Erty.
"oke, oke. 'Hantu tidaklah nyata'," sahutku jengkel. Ah, Erty cerewet sekali!

Seorang guru datang dengan misterius. Kepalanya menunduk, dan memakai baju guru seperti jubah. Siapakah dia? Tunggu dulu. Dia bukanlah Bu Tirta!

"ssss.. say, grrr... greeting," perintah Irfan terbata-bata. Ia takut dengan 'guru misterius' itu.
"gggg... good, morrrr... morning," salam semua murid terbata-bata.
Aneh. Sosok 'guru misterius' ini tidak menjawab. Benar-benar aneh, tetapi nyata!
"eumh, excuse me. May i ask you something?" ucap salah satu murid kepada 'guru misterius' itu. Orang itu hanya mengangguk tanpa berkata-kata.
"kamu ingin mengajar apa di kelas ini?" tanya murid yang ingin bertanya tadi. 'Guru misterius' itu menggeleng.
"ngapain kesini kalau tidak mengajar?!" pekikku pelan ketakutan. "apakah dia hantu?"
"tidak. Tidak mungkin hantu! Lihat saja. Ada kaki menapak tanah," bantah Codi sambil berbisik.
"aku takut,..." gumamku pelan. Efek! Ini efek menonton film seram!
'Guru misterius' itu tampak berjalan ke arahku. Tiba-tiba, dia hendak menerkamku, dan...

~~~~~~~~~~~~~~~~~

"TIDAAAAAAAK!" pekikku kencang.
"RIZA!" teriak Bunda. "Riza! Kamu benar-benar sudah kelewatan! Kamu phobia! Bunda akan mengantarmu ke ahli pengatas phobia(tips:sorry, aku ngasal, hahaha)!" jerit Bunda.

Aku dan Bunda segera pergi ke tempat ahli pengatas phobia. Ahli pengatas phobia atau APP(baca:Apepe) adalah orang yang ahli dalam mengatasi phobia seseorang. Jika orang itu phobia dengan nasi, maka APP itu akan mengatasi orang yang phobia dengan nasi itu bagaimana pun caranya.

"Bun, are you serious?" tanyaku menegaskan.
"sure," sahut Bunda sambil tersenyum.

Tibalah kita, di tempat APP.

Canggih sekali tempatnya, gumamku.

"mau ke APP?" tanya salah seorang petugas.
"tentu saja," jawab Bunda lalu dituntun petugas itu.

Sampailah kita di tempat tunggu. Banyak sekali! Disana, mereka memakai baju bergambar phobia mereka, lalu dicoret gambar itu. Ada yang phobia dengan nasi, piring, bahkan baju! Ya Tuhan, aneh sekali orang-orang ini. Kata ibu anak phobia baju itu, jika anak itu memakai baju harus menutup mata agar tidak menjerit. Ck ck ck...

Aku pun diberi baju bergambar hantu kartun dan gambar itu dicoret. Semua itu di buat dalam waktu yang sangaaaat singkat. Benar-benar aneh, pikirku. Oh iya, aku mendapat nomor urut 21. Satu kata, yaitu; lama.

Berjam-jam kemudian...

"21!" panggil petugas penjaga ruang APP.
"Bun, it's time," delikku. Bunda santai dan tersenyum simpul.
"jadi, kau phobia pada hantu, anak manis?" tanya Mr. Phom, ahli pengatas phobia alias APP.
"ya, Mr. Phom. Sejak aku menonton film horror bersama teman-temanku," jawabku menjelaskan.
"hmmm," Mr. Phom bergumam, lalu berpikir sebentar. "Hantu dalam film itu tidak nyata, anak manis. Mari kutunjukkan pembuatan hantu seram itu," ajaknya lalu membuka laptopnya. Bukan laptop, melainkan lebih canggih.
"NOOOO!" jeritku kencang.
"sshh, tenang! Lihat!" tunjuknya. Disana, terdapat proses pembuatan muka hantu film Insidious(tips:aku ngasal lagi! wkwk). Orangnya hanya di make up!
"i... itu," aku menunjuk kepada hantu filmnya.
"ya. Hantu itu manusia," potong Mr. Phom.
"sementara, untuk..." Mr. Phom memutar kursinya. "film Mama, itu editan. Bahkan, saya bisa membuat hantu editan lebih seram!" gurau Mr. Phom. Aku mendesah lega.
"lihat, benar, kan? Jika kamu ahli, kamu juga bisa mengeditnya, anak manis," lanjut Mr. Phom. Bunda tersenyum ke arahku.
"sementara untuk film lain, Mr. Phom?" tanyaku kemudian.
"jika hantunya itu mempunyai kaki, hantu itu manusia yang di make up. Sementara untuk semacam hantu film Mama, itu editan. Sudah kubuktikan, bukan? Aku bahkan bisa mengedit lebih seram," jelas Mr. Phom sambil tertawa. Aku ikut tertawa. Aku juga bisa mengeditnya, kataku.
"kamu juga bisa mengedit dirimu bersama hantu, lho!" beri tahu Mr. Phom. Aku menaikkan alis. "tapi bukan waktu yang tepat, anak manis. Ini masalah phobiamu," lanjutnya.
"kalau hantu nyata? Semacam, ummm... pocong, atau yang lain?" tanyaku lagi.
"itu..." Mr. Phom kebingungan. "Aha! Aku pernah dengar. Jika kamu percaya dan kamu tidak takut, hantu itu akan takut kepadamu dan menjauhimu. Jika kamu takut, hantu itu akan mengganggumu," sambungnya sambil tersenyum lebar.
"tapi, menghilangkan rasa takutnya itu susah sekali, Mr. Phom!" bantahku.
Mr. Phom menyeringai lebar. "tidak sulit. Kamu hanya perlu percaya kepada Tuhan dan percaya pada diri sendiri, lalu hantu itu akan menjadi tidak nyata dalam kehidupanmu," ucapnya.
Aku terdiam mematung. Ah, itu benar! Persis seperti kata-kata Erty waktu itu. Aku menjadi tenang.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, anak manis?" tanya Mr. Phom lembut.
"aku merasa lebih baik! Aku tidak takut lagi!" seruku senang.
"benarkah?" tegas Mr. Phom
"benar! Terima kasih banyak Mr. Phom!"

~~~~~~~~~~~~~~~

"Mama... Mama..."

Terdengar suara menyeramkan dari TV. Oalah, ternyata film Mama!

"lagi menonton apa, Riza?" tegur Bunda.
"Mama, Bun. Kali ini tenang dan gak menakutkan!" jawabku sambil tersenyum.
"ingat kata-kata Mr. Phom, ya, sayang," ucap Bunda.

Mr. Phom benar. Hantu tidaklah nyata jika kita berani menghadapinya. Hantu akan nyata jika kita takut menghadapinya. Kau perlu ingat, hantu bukanlah sesuatu yang BENAR-BENAR nyata. Sekarang, aku suka menonton Horror Movie dan aku tidak takut sendirian di kamar lagi!

Monday, 7 October 2013

Cerpen : Indonesia Lebih Baik!

Hola! (ala Dora)

Kalian tahu aku lagi senang membuat cerpen?? So, jangan heran aku buat cerpen lagi...
C^E^K^I^D^O^T

INDONESIA LEBIH BAIK!

Cynthia terpaku di jendela kamarnya. Sesekali, air mata keluar membasahi keningnya dan ia menghapusnya kembali. Cynthia masih tidak percaya akan kata-kata Mom seminggu yang lalu...

"Cynthia!" panggil Mom dari dapur.
Cynthia lari tergopoh-gopoh, "ada apa, Mom?" tanyanya riang.
"I want talk about something special to you," ucap Mom. Oh ya, Cynthia itu blasteran. Dad-nya berdarah Indonesia, sementara Mom berdarah England. Cynthia lahir di kebangsaan Dad-nya, Indonesia.
"what, Mom?" seloroh Cynthia tidak sabar.
"we want to move house," jawab Mom. "to Indonesia,"
"WHAT?!" jerit Cynthia. "pi.. pin... pindah ke Indonesia? I won't!" tolak Cynthia menahan tangis.
"you don't be sad, orang Indonesia itu tidak jahat, ramah-ramah. Budaya Indonesia akan membuat kamu tertarik dan nyaman disana. Dan, yang penting, your new friends will be great," Mom lalu menenangkan Cynthia yang sudah menangis.
"I won't... I won't..." isak Cynthia. "Aku tidak mau meninggalkan Ceyla dan Cicka! BFC!"
"Best Friends C?" tanya Mom. "Kamu akan mendapatkannya juga, meskipun namanya bukan berawal dari C,"
"Tidak akan," Cynthia mengusap air matanya dan masuk kamar.

1 minggu kemudian...

Disinilah Cynthia, di jendela kamarnya. Terpaku sambil menangis sesenggukan. Dia tidak mau move house, karena sudah terlanjur cinta dengan tempat tinggalnya, Amerika, dan sudah bersahabat dengan Ceyla serta Cicka. Bahkan, karena nama mereka sama-sama berawal dari C, mereka; Cynthia, Ceyla dan Cicka, membuat kelompok persahabatan bernama "Best Friends C" seperti yang disebutkan Mom tadi, yang artinya Persahabatan C.

Cynthia mengambil diary-nya, lalu mulai menulis. Ia memang hobi menulis diary dan sering sekali curhat.

Dear Sweety..

Kamu tentu sudah tahu kalau aku mau move house ke Indonesia, karena sebelumnya aku sudah menceritakannya. Aku sudah ingin membatalkan move house itu dengan cara yang sudah kubilang; merayu Mom. Tetapi, tidak ampuh sama sekali. Keputusan Mom bulat. Sweety, aku sedih sekali.. aku takut tidak punya teman dan persahabatanku antara Ceyla dan Cicka putus... Aku tidak mau ada salah satu dari BFC pisah.. Dear God, please help me.. Jika memang itu jalanku yang terbaik, pertemukanlah aku dengan sahabat baru,...

Cynthia terisak-isak menulis diary-nya yang bernama Sweety. Entah mengapa, Cynthia begitu mementingkan sahabatnya itu sampai menangis berhari-hari tanpa henti. Memang sahabat itu penting, tetapi jangan terlalu seperti itu hingga menangis tidak berhenti selama 7 jam.

***

Disinilah Cynthia bersama Mom dan Dad, Bandara Internasional Amerika. Mereka akan menaiki pesawat Indonesia, yaitu Garuda Indoensia. Mom dan Dad sudah memesan tiket VVIP yang akan membuat mereka nyaman sepanjang perjalanan. Karena perjalanan Amerika-Indonesia jauh, mereka harus transit satu kali dan melanjutkan perjalanan kembali. Ah, Cynthia ingin berteriak rasanya dan melampiaskan rasa sedihnya. Aku benci ini, aku tidak mau moving house! batin Cynthia bersedih.

"Good bye America..."

***

14 jam berlalu. Kini, Cynthia telah menginjak kaki di tanah airnya serta tanah air asli Dad, tempat kelahirannya, dan tempat tinggalnya yang baru.Cynthia menghela napas panjang, lalu ikut melangkah sambil mengambil sesuatu dari tasnya. Oh, Sweety, diary-nya lagi.

"Aku akan menulisnya saat makan nanti," gumam Cynthia sambil memeluk diary-nya. Entah mengapa, Cynthia merasa diary-nya adalah segalanya baginya. Bahkan, Ceyla dan Cicka pun tidak mengetahui sedikit pun isi diary tersebut.
"Cynthia, wanna eat or drink something?" tanya Mom. Cynthia mengangguk, karena dia memang lapar sekali. Kalau haus, di pesawat tadi Cynthia sudah banyak minum sehingga sekarang ia tidak haus lagi.
"Saya pesan 2 soto kudus, dan... Cynthia mau apa?" pesan Mom sekaligus meminta Cynthia memesan makanannya.
"soto kudus? Apa itu?" tanya Cynthia polos dan bingung.
"susah, lah, menjelaskannya, honey. Now, go hurry," perintah Mom, tetapi masih saja lembut.
"okay, aku pesan.. um, fried rice ini," Cynthia menunjuk Nasi Goreng Spesial. Pelayan itu segera mencatatnya dan mengulangnya. Tak lama kemudian, datanglah semua makanan itu. Pelayan itu tersenyum ramah lalu kembali ke dapur. Benar kata Mom, orang Indonesia ramah-ramah, batin Cynthia terkagum-kagum.
"kenapa melamun, Cynthia? Go hurry eat your food.. itu Nasi Goreng terenak katanya," ucap Mom.
"seriously? Nasi Goreng terenak? Oke, oke.. aku hurry eat, deh," balas Cynthia, lalu memakan Nasi Gorengnya.
"ummm!" mulut Cynthia menjadi tembam karena mengambil terlalu banyak porsi sendoknya. Semua tertawa. "ewnwak swekwalwi!" Cynthia menjadi lucu bicara. Suasana menjadi riang. Aku mulai nyaman disini... ucap Cynthia dalam hati, lalu menatap sekeliling sambil tersenyum.

***

Keesokan harinya, Cynthia sudah siap dengan seragam putih-merah. Dia juga sudah memakai lokasi sekolahnya, yaitu SD Indonesia Kita Merdeka. Dengan nama CYNTHIA di atas dada kanan, serta dasi dan ikat pinggang, dan tak lupa sepatu beserta kaus kakinya, ia siap berangkat ke sekolah barunya. Cynthia mulai nyaman.

"Sudah siap sekolah?" tegas Dad.
"siap! Siap sekali!" jawab Cynthia yakin.
"selamat sekolah, Cynthia.. lakukan yang terbaik! Semangat!" Dad menyemangati Cynthia. Cynthia salam kepada Dad, lalu berlari menuju lapangan tempat upacara. Upacara apa ini? batinnya bertanya-tanya. Tapi, Cynthia hanya mengikuti dengan tertib. Padahal, hampir semua anak di kelas 5 mengamatinya, tetapi Cynthia tidak peduli dan tetap tertib karena rasa ingin tahunya tentang upacara ini.

***

"kamu anak baru?"
"wah, kamu cantik sekali!"
"oh, kulitmu putih sekali!"
"aku kagum akan kecantikanmu!"
"semoga kamu tidak sombong!"
"berteman dengan kami, ya!"

Beribu kata menghampiri Cynthia yang hendak masuk kelas. HENDAK, belum masuk kelas. Hendak saja sudah dipenuhi dengan semua anak. Cynthia tersenyum, lalu dengan lembut dia berkata, "sabar dulu, teman-teman. Aku mau duduk dulu," dan itu semua membuat anak-anak tercengang. Secantik ini baik? Wah, semua teman semakin tidak sabar untuk mendekatinya.

***

Pelajaran pertama, kedua, serta ketiga selesai. Cynthia segera berlari ke luar kelas. Dengan singkatnya, Cynthia sudah mendapat berpuluh-puluh teman! Wah... hal ini membuat Cynthia semakin semangat bersekolah, apalagi semua guru baik dan perhatian kepadanya.

"Annyeong, Cynthia!" sapa Ryta.
"Annyeong, Ryta!" balas Cynthia sambil tersenyum riang.
"mau ke kantin?" tanya Ryta penuh semangat.
"yup," jawab Cynthia singkat.
"aku boleh bareng kamu, tidak?" harap Ryta.
"boleh, boleh! Dengan senang hati!" Cynthia segera menggamit tangan Ryta, lalu mengajak ke kantin. Wah, Cynthia baik sekali, cantik, pintar, senangnya punya teman seperti ini... batin Ryta terkagum-kagum.

Saat orang-orang melihat Ryta berjalan dengan Cynthia bergandengan, semua jadi iri. Seakrab itu? 
"Kami juga mau digamit kamu, Cynthiaaaa...!" sindir Ifa dengan wajah memelas. Sepertinya bukan menyindir, tetapi meminta.
"boleh!" Cynthia lalu menggambit tangan Ifa, dan semuanya juga ikut. Wah, Mom benar! Indonesia benar-benar menyenangkan! Tinggal mengenal budayanya, nih.. gumam Cynthia dalam hati. Dia tersenyum senang.
"Teman-teman," panggil Cynthia.
"ada apa, Cynthia?" seloroh mereka hampir bersamaan.
"boleh ajari aku kebudayaan Indonesia?" pinta Cynthia.
Seketika, 9 (WOW) anak itu ribut. "tentu saja!"

Cynthia pun di ajari tari-tari tradisional Indonesia, dan diperkenalkan dengan baju-baju daerah Indonesia. Tak lupa, alat musik tradisional Indonesia tentunya. Cynthia semakiin bersemangat. Dalam waktu satu hari, dia mendapat berpuluh-puluh teman dan ilmu yang banyak! Betapa senangnya gadis satu ini.

Cynthia merasa, "Indonesia lebih baik daripada Amerika,". Yup! Semua warga Indonesia harus mengakui itu. Tapi, karena saking banyaknya artis hollywood yang keluar di luar negeri, warga Indonesia tidak mengakui itu. Maka, lestarikanlah Indonesia, terutama budayanya! Jika orang luar saja mau melestarikan, kenapa kita tidak?

Cerpen : SMS Misterius

Hai All!
Aku buat cerpen lagi, nih! Cerpen ke... 3, kan? Kali ini cerpen yang kubuat adalah lomba di Event Facebook, tentunya lomba cerpen. Lombanya berhadiah buku KKPK. Sambil baca, sambil doakan aku menang, ya! Hehehe.. Oh iya, cukup tahu, bahwa ibu-ibu dan Mas Anto itu adalah kejadian nyata. Tapi, terornya enggak, kok.. kejadian nyatanya bahkan terjadi hari ini, lho! Ideku hebat, kan? Wkwk... Dan satu lagi, yang nyata cuma dari "Eyang," sampai "kembali ke rumah".

Finally, Wish Me Luck and Keep Reading! ^_^

SMS MISTERIUS

"Eyang, aku mau ke Mas Anto. Aku mau beli pulsa," pamitku lalu membuka pintu. Aku mengambil sepeda kecilku yang berwarna hijau, dan segera melesat ke Tukang Pulsa, Mas Anto yang bernama sama dengan nama ayahku. Aku sudah langganan disana.

Sambil membawa secarik kertas berisi nomor teleponku, serta uang sejumlah Rp30,000,000. Aku akan membeli pulsa sebanyak 25 ribu. Dihitung-hitung, banyak juga pengeluaranku bulan Oktober ini.

Kring... Kring...

Aku membunyikan bel sepedaku dengan nyaring begitu sampai di Toko Mas Anto. Disana, terlihat sosok ibu-ibu yang menatapku kepo dan tidak suka. Ufff, aku menghela napas pelan.

"Om, aku mau beli pulsa, dong!" ujarku begitu sampai.
"Pulsa apa?" tanya Mas Anto yang sedang mengetik.
"Mentari," jawabku singkat.
"Berapa?" Mas Anto menoleh ke arahku dan ibu-ibu menyebalkan itu.
"25 ribu aja, aku bayar langsung," sahutku lalu hendak menyerahkan kertas berisi nomor yang akan diisi pulsa. Ternyata, Mas Anto suruh mengeja. Ya, sudah, aku mengeja nomornya.

Aku merasakan keanehan di ibu-ibu itu. Saat aku membaca kertas, dia tampak sangat kepo dan menatapku hingga akhir aku pulang. Menyebalkan sekali!

"sok kenal," rutukku pelan saat beranjak pulang.
"makasih Om!" ucapku kepada Mas Anto, hampir lupa mengucap Terima Kasih kepadanya karena sudah mengisikan pulsa. Aku segera kembali ke rumah.

***

"Orang itu me-nye-bal-kan!" ceritaku di sela-sela telepon.
"ya, ya, ya. Aku tahu. Aku penasaran akan sosoknya," tanggap Rasha di seberang telepon.
"pokoknya...." kata-kataku terputus. "Ah, ada SMS. Nanti lagi, ya, Sha! Siapa tahu SMS penting, dari fans," kataku pamit dan sedikit GR.
"idiiww, fans? Mana ada yang mau nge-fans sama kamu, yeee," ledek Rasha.
"ihh, ada, dong." sahutku dengan jengkel dan berpikir, "Binatang," gurauku. Rasha tertawa terbahak-bahak.
"HAHAHA! Ya, sudah. Katanya ada SMS?" tanya Rasha yang masih tertawa.
"Oh iya, lupa aku. Oke, bye bye. HAHAHA!" aku menutup percakapan kami.

Huh, orang itu me-nye-bal-kan! gerutuku dalam hati. Aku kembali bicara tentang orang itu.

Ya, ORANG ITU, sosok ibu-ibu yang memperhatikanku ketat saat aku membeli pulsa tadi. Sekali lagi, ME-NYE-BAL-KAN! Eh, hampir lupa! Tadi, kan, ada SMS. Oke, karena terlalu kesal, jadi lupa, nih.

Hai Anak Kecil!
Kamu pasti hari ini sedang memakai baju Paris berbackground Putih dan Parisnya berwarna Pink dengan jeans berwarna hitam kebiru-biruan! Kamu juga tinggal di Komplek Intan Permata Jl. Permata I No. 6. Kamu juga anak kecil! Haha.. aku tahu karena aku tadi menemuimu! Tetapi kamu tidak tahu siapa diriku!

-PRIVATE NUMBER-

"HAH?!" aku menjerit seketika. Oh, Tuhan.. ada yang menerorku! Aku harus menghentikan dan menyelidiki teror ini! Sebagai hacker rahasia, aku mulai beraksi. Aku mulai membuka Private Number itu. Aha! Ketemu nomornya; 089876543210. Kena kau manusia misterius! Aku segera mengetik balasanku kepadanya :


Hai Orang Gak Jelas!
Oke, aku jujur. Aku gak tahu dirimu, aku hanya bertemu orang-orang yang aku kenal hari ini! Tapi, aku tahu nomormu dan TEROR PRIVATE NUMBER-mu telah berakhir karena aku seorang hacker andal. Aku bukan cracker dan aku adalah HACKER! So, jangan rahasia-rahasiaan lagi. Walaupun, siapa kamu belum terungkap.

-ORANG JELAS-

Oke, amarahku kambuh dan aku sedikit deg-degan. Hari gini masih neror pake Private Number? Capek, deh, cyiinn... cara orang itu, hmmm, cukup aneh menurutku. Dia tidak tahu bahwa aku seorang hacker andal yang bisa meng-hack Private Number. Ahaha! Jayus.

Ting Ting!

Sip, ini pasti si private number yang sudah terungkap! Olala, ternyata ayahku. Oke, tidak apa. Siapa tahu ada berita baik dari isi smsnya.

Nak, ayah pulang cepat. Sampai rumah ayah melihat kamarmu berantakan, awas saja.

Oh tidak, itu sebuah ancaman! Dan boleh jujur, aku orangnya malas. Malas dalam hal merapikan kamar. Maka itu, kamarku berantakan dan aku selalu tidur malam untuk membereskannya. Dan, berita buruk bagiku jika ayah pulang cepat! Mungkin itu berita baik bagi kalian semua, tetapi buruk bagiku! Arrghh, buruk banget-sekali!

Ada SMS lagi! Aku, kan, tidak membalas SMS ayah. Maka, oh... private number! Yeahaha... bertarung kembali kita.

Heh! Anak Kecil!
Jangan berani-beraninya melawanku, karena aku ORANGTUA! ORANG LEBIH TUA! Gak tau adab, kamu!

Whatever, dia orang yang lebih tua dariku? Sikapnya seperti anak-anak! Aku tidak peduli. Langsung saja kubalas,

Hei, ORANG-TUA GAK JELAS!
Aduh, aduh, aduh... ternyata orang-tua? orang yang-lebih tua? Fine aja, sih. Aku punya adab. Kamu yang gak punya adab, orang-tua. Sikap seperti anak kecil.

Termasuk mengejek, gak, sih? Ah, sudahlah. Yang penting, aku sudah membalas dia dan telah tahu nomornya yang tadinya private number. Menyenangkan juga menjadi hacker. Hack hanya dilakukan pada keadaan penting. Aku tidak menyalahgunakannya.

Aku merasa... oh, perasaan apa ini? Seperti menyelimuti pikiranku dan, noo...

***

Aku terbaring lemah di kasur. What?!

"Hai, Fira," sapa ayah lembut. Siapa yang memindahkanku ke kasur? Tanda tanya besar.
Aku hendak membuka mulut. Ayah yang tahu apa yang mau aku ucapkan, segera berkata, "iya, Fira. Kamu pingsan begitu lama. Entah dengan penyebab apa, tapi ayah menemukan kamu..." kata-kata ayah terputus. Dia menunjukkan SMS-ku dengan private number. Oh god! Ayah tahu itu!
"hei, ada SMS baru darinya..." gumamku dan segera merebut handphone-ku. SMS balasannya yang baru berisi :

Aku mengalah. Kamu hebat, kamu hacker dan tahu nomorku. Tapi aku merasa dilecehkan, karena aku adalah...

Tanda tanya. Oh, dia enter begitu panjang. Sampai akhirnya, aku menemukan kata yang sangat membuatku terkejut dan ingin pingsan lagi.

Ibu-ibu yang kau temui tadi di Mas Anto.

"GAK MUNGKIN!" teriakku lalu duduk dari tidurku.
"Ibu-ibu tadi itu siapa?" tanya ayah yang sudah baca semua SMS-ku dengan private number alias ibu-ibu itu.
"tadi... aku pergi ke Mas Anto, lalu saat aku membacakan nomornya, ada ibu-ibu dengan tatapan serius dan tidak suka melihat nomorku. Ugh, menyebalkan..." kisahku.
"oh, begitu. Kamu tidak sopan, Fira," nasihat ayah.
"lagi, ibu-ibu sok gaul pakai private number, pantas aku lawan! Aku pun tidak mengira private number itu ibu-ibu." sanggahku jengkel.
"private number? Numbernya terbuka, kok." Ayah bertanya-tanya.
"oohh, iya. Tadi aku meng-hacknya dan aku tahu nomornya sehingga aku dan private number alias ibu-ibu itu, adu mulut," jelasku.
"sekarang kamu tanya alamat ibu-ibu itu." perintah ayah.
"untuk apa?" tanyaku menggerutu.
"ayah ingin mengetahui sosoknya, siapa tahu teman ayah yang tidak mengetahuimu," ungkap ayah. Oke, segera aku tanya dan dapat!
"Komplek Intan Permata Jl. Permata III No.7," aku membacakan alamatnya. "dekat sekali, yah,"
"iya. Ayah akan menemuinya." ayah langsung bergegas. Oh, secepat itu? Sepertinya ayah niat sekali.

***

Tak lama, ayah kembali membawa seorang ibu-ibu. Oh, ibu-ibu tadi!

"Nak, ini teman ayah. Dulunya juga musuh ayah, dan ayah membencinya. Sama seperti kamu, membencinya," ayah memperkenalkan ibu-ibu itu.
"maaf, bu, saya berperilaku sopan," kataku meminta maaf dengan canggung.
"iya, tidak apa. Maaf meneror, hihihi..." ibu itu terkikik kecil. "Ibu Mira." dia memperkenalkan namanya.
"Fira," aku juga memperkenalkan namaku.
"ibu memperhatikanmu karena ibu sering melihatmu bermain volly dilapangan," ucap Ibu mira.
"oh, pantas saja," aku bergumam. Aku seperti pernah melihat ibu ini, dan ternyata dia yang sering menonton pertandingan volly-ku dan teman-teman.

Ah, lenyap sudah amarahku dan terungkap sudah kasus teror SMS Misterius! Dari teror ini, aku belajar untuk menahan amarah. Karena amarahku, Bu Mira jadi marah dan kami adu mulut. Eh, adu SMS! Oke, terima kasih ibu-ibu misterius!

Saturday, 5 October 2013

Cerpen : Misteri Foto One Direction

My 2nd Cerpen ;)
C^E^K^I^D^O^T

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku menatap langit-langit kamar yang dipenuhi poster. Terlihat jelas, tampak foto One Direction sedang tersenyum ke arahku. Tetapi, kali ini aku merasa senyuman One Direction itu beda. Padahal, jelas-jelas itu hanyalah foto One Direction belaka. Ah, mungkin hanya pikiranku saja yang kacau. Mana ada gaya foto seseorang bisa berubah? Ada-ada saja aku ini. Mungkin, ini hanya efek ketakutan karena di rumah sendiri. Huf, hilangkan rasa takut itu susah sekali. Aku terpaku sambil melirik-lirik seluruh kamar, khawatir ada sesuatu menerjang diriku.

Ya, hari ini, sore hari, aku sendiri di rumah. Aku tinggal bersama kedua eyangku, satu tanteku, dan ayahku. Ibuku kerja dan adikku tinggal di rumah nenekku yang berada di Bogor. Saat ini, kedua eyangku sedang menjemput tanteku sekolah. Ya, tanteku tidak normal dalam mentalnya. Jadi, dia bersekolah di SLB meskipun umurnya sudah tidak layak sekolah lagi.

Sendiri di rumah adalah hal paling menakutkan bagiku. Lebih menakutkan daripada film Slit-Mouthed Woman dan film Insidious. Film horror terseram bagiku. Film horror itu pula yang membuatku jadi takut di rumah sendiri, tapi memang aku yang penakut. Tapi, aku sangatlah labil. Dulu, karena aku ingin menonton film favoritku di TV, aku jadi selalu tidak ikut jika eyang menjemput tanteku. Dan, mulai saat itu juga, aku selalu tidak ikut menjemput tanteku. Padahal, dihitung-hitung peristiwa itu sudah berbulan-bulan yang lalu. Penakut sekali diriku ini, oh Tuhan.

Aku memberanikan diri untuk melangkah ke ruang tamu. Sedari tadi, aku hanya diam seperti patung yang bisa berkedip mata. Tiba-tiba, saat aku melangkahkan kaki ke ruang tamu, dilihatku sesuatu berwarna putih melayang-layang di tembok.

"HUAAAA!" aku menjerit sekeras mungkin. Tapi, aku tak bisa gerak! Kuputuskan untuk berbalik badan, lalu kembali ke kamar tanpa melihat sesuatu berwarna putih itu. Aku menghela napas ketakutan setelah menjerit sekeras itu. Mungkin, seisi komplek akan mendengar jeritanku itu.

Hantu! Pikiranku melayang. Itu pasti hantu! Apa lagi kalau bukan hantu? Hantu yang menggangguku saat aku sedang sendiri di rumah.

PLAK!

Aku mendengar suara "PLAK!" dengan kecil. Suara apa itu? Mengapa suaranya kecil? Aneh, tetapi cukup membuatku bergidik takut. Yang membuatku penasaran adalah mengapa suaranya kecil dan itu pasti bukan tepukan nyamuk dari luar.

Tin.. Tin..

Alhamdulillah, eyangku pulang! Suara klakson yang khas yang selalu kudengar setiap sore. Aku segera menyambut dengan gembira. Tapi.. mana mobilnya?

"AAAAAAA!" jeritku. Aku berlari ke kamar lagi. Suara klakson mobil orang? Hu-uh, membuatku menjerit kembali.

Tin.. Tin..

Kali ini aku tidak terlalu berharap. Aku tidak mau keluar lagi sampai eyang membukakan pintu, batinku.

Ternyata, itu benar eyang! Syukurlah kalau begitu. Aku benar-benar ingin menjerit senang.

"eyang, kok, lama, sih?" sambutku lalu menuntun eyang masuk.
"lama? Perasaan tidak, deh. Eyang hanya menjemput setengah jam. Biasanya lebih lama, kan, 1 jam." kening eyang berkerut.
"masa, sih?" tanyaku bingung. Mungkin, aku yang membuatnya lama karena terlalu takut.
"iya, yakin, deh!" jawab eyang meyakinkan.
"oh, oke. Aku masuk kamar, ya!" pamitku lalu berlari masuk ke kamar lagi.

Di ruang tamu, aku melihat ada kertas terjatuh. Jatuh persis di bawah tembok tempat sesuatu putih tadi! Hatiku kembali berdebar.

Aku memutar otak, berpikir.
"ini pasti yang menyebabkan bunyi PLAK!" gumamku.
"eh, ini juga sesuatu putihnya! Aha!" aku menjetikkan jari, riang dan masalah sudah terpecahkan.

Sambil bersenandung ria, aku kembali ke kamar. Sebentar, rasanya ada yang janggal. Sepertinya, tadi ada poster One Direction, sekarang, kok, tidak ada? Hatiku berdebar kembali.

Tuesday, 4 June 2013

Cerpen : Sekolah Ternyata Menyenangkan

Hayy Friends! Kali ini aku mau buat Cerpen lohh.. Cerpen ini aku lombakan di Lomba Buat Cerpen di Grup Fans Majalah Bobo di Facebook. Judulnyaaa... ada di Title! :D
C^H^E^C^K I^T O^U^T

SEKOLAH TERNYATA MENYENANGKAN

Pagi yang cerah, tetapi menyebalkan bagiku. Hari ini sekolah! Huff, hari-hari yang biasa ku isi dengan tiduran di rumah setelah shalat subuh, menjadi harus bangun pagi dan mandi dengan air yang dingin setelah shalat subuh. Begitu pula, kegiatan setiap malam diganti. Yang biasanya aku main Wii, menjadi belajar dan menyiapkan buku. Hhh..

Hari ini aku masuk sekolah kembali. Bangga aku naik kelas, namun menyebalkan harus kembali dengan kegiatan belajar, menyiapkan buku, setelah shalat subuh aku tidak bisa tidur lagi, melainkan siap-siap untuk sekolah dan mandi di pagi hari dengan air yang dingin.

"Salsaaaa... ayo mandi! Jangan tidur-tiduran terus! Bangun! Atau tidak, mama siram kamu dengan air dingin!" Teriak mama yang kuduga sedang memasak bekal untukku di dapur. Aku segera mengambil handuk, lalu bergegas mandi dengan langkah malas. Malas! Rasanya aku ingin membolos saja.

Oh ya, perkenalkan namaku Salsabila Evathya Qathrunanda. Aku keturunan Arab. Aku dipanggil Salsa. Di sekolah, aku dipanggil oleh anak laki-laki arab gokil. Setiap aku datang, mereka(anak laki-laki) selalu berseru, "eh, ada arab gokil!" Aku mendengus kesal. Itu gara-gara video Arab Gokil yang lucu di Youtube. Dan aku tidak punya teman karena kata mereka aku sok cantik. Juga karena aku tidak bergaul dengan teman-teman, aku pendiam.

Back to the Story.

Setelah mandi, aku pakai baju seragam hari senin. Aku melihat jam dinding.
"WHAAAAT?!" aku terperanjat. Jam berapa ini? Hari ini.. Upacara! Bisa-bisa aku dihukum dengan mengangkat sebelah kakiku dan menjewer telingaku sendiri. Di depan para peserta upacara. Tanpa basa-basi, aku segera memakai kaus kaki, membawa tas gendongku, mengambil bekal yang sudah disiapkan mama, lalu bergegas memakai sepatu sambil berteriak, "MAMAAA, AKU BURU-BURU, AKU BERANGKAT YA! ASSALAMUALAIKUM!" sambil berlari menuju pangkalan ojek. Ya, di hari pertamaku sekolah kelas 5 ini, aku disuruh mama pakai ojek di pangkalan. Nanti siang mama janji akan memesan ojek langganan. Oke, aku sampai di sekolah sekarang. OH, NOOO! Pintu gerbang sedang ditutup.. dan aku bengong melihat itu. Haa, Salsa, kamu ini bagaimana sih! Kok malah bengong.. aku berlari dan.. aku menyelip! Yes, bisa ikut upacara dan tidak dihukum.. cukup mengerikan mungkin peristiwa ku ini. Aku menaruh tas di pos, dan aku berlari menuju tempat barisan kelas 5. Hei, aku dibelakang seseorang! Seseorang itu memakai jilbab putih, rambutnya terlihat sampai ke bagian perut. Dia berbalik ke belakang, dan.. wajahnya cantik sekali!

"Hai, kamu anak baru ya?" tanyaku kepadanya.
"Iya, aku anak baru dari Batam. Kamu?" jawabnya ramah, tidak seperti bayangan ku sebelumnya.
"Aku anak lama dari kelas 1. Namaku Salsa. Namamu?" tanyaku lagi penuh senyum.
"Hai, Salsa. Namaku Izza." jawabnya.
"Hei, sedang upacara tidak boleh mengobrol!" tegur pemimpin barisan dari kelas 5B, Fairuz. Aku dan Izza cekikikan lalu berhenti mengobrol.

>>Setelah upacara

"Bolehkah aku duduk denganmu, Izza?" tanyaku kepada Izza.
"Tentu boleh," jawabnya riang.

Di kelas, aku dihibur oleh cerita-cerita Izza. Bukan berarti kami mengobrol terus di saat belajar, hanya saat istirahat saja. Sesekali kami mengobrol hal-hal lucu sehingga kami tertawa. Teman-teman perempuan yang membenciku bingung dan melihat kepadaku. Sekarang, aku di kelas tidak lagi orang yang pendiam. Melainkan selalu tersenyum, tertawa, dan aktif.

"Aku sangat beruntung bisa sekolah, tidak seperti temanku," cerita Izza tiba-tiba. Aku terperanjat.
"Memangnya kenapa temanmu?" tanyaku kaget.
"Temanku tidak punya dana untuk sekolah. Kasihan dia. Dia selalu ku pinjamkan buku. Hasilnya, dia pintar sekarang walaupun tidak sekolah. Dia pintar mencerna pelajaran." jawab Izza dengan senyuman, "namanya Sarah, dia anak yang pantang menyerah dan selalu tersenyum. Ramah pula," sambung Izza. Dalam hatiku, aku kaget sekali. Di dunia ini ada anak yang ingin sekolah?
"Halooo.. Salsa!" ucap Izza membuyarkan lamunanku. "Ada apa? Kok kamu ngelamun?" tanyanya
"Aku memikirkan temanmu itu, Sarah. Selama ini, aku malas sekolah. Aku sangat senang jika liburan tiba. Setelah shalat subuh, aku tidur lagi sampai jam 10. Lalu, malamnya aku tidur jam 11 karena bermain Wii. Tidak pernah belajar." ceritaku. Izza tersenyum.
"Kamu harus merubah sikapmu, Sa! Kamu beruntung lho, bisa bersekolah!" ucapnya. Aku terharu, lalu memeluk Izza. Izza melamun. Begitu pula teman-temanku.
"Terima kasih Za, atas nasihatmu! Mulai sekarang, aku akan merubah sifatku! Aku bersyukur dapat sekolah!" jelasku. Izza tersenyum riang.

Mulai saat ini, aku menjadi anak yang rajin, riang, ramah senyum, dan punya banyak teman. Dan aku tidak menganggap sekolah menyebalkan lagi. Sekolah segalanya bagiku. Di sekolah, aku dan teman-teman sering kali bercanda, ngobrol, curhat, nyanyi, dan lain-lain. Sekolah menjadi sangat menyenangkan. Terima kasih Izza, kau telah menasihatiku. Hasilnya, aku dapat menjadi anak yang baik dan sekolah sekarang menyenangkan bagiku!


~THE END~
#no bully
#maaf kalo jelek
#ini 100% buatan aku! Beneran!
ZahraRaraD_" target="_blank title="Follow Me on Twitter">