Showing posts with label Misteri. Show all posts
Showing posts with label Misteri. Show all posts

Sunday, 13 October 2013

Cerpen : Horror Movie

Hello, Friends!

Ini cerpen keberapaku, yaaaa...?? Ah, gak usah dipikirkan! Yang penting...
C^E^K^I^D^O^T

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

"AAAAAAAAAAAA!" teriakku kencang.
"Za, tenang!" ucap Bunda.
"seram, Bun! Aku melihatnya sedang ingin menerkamku! Itu lebih seram! Aku tidak mau tidur sendiri lagi, Bun!" desisku. "walaupun aku sudah besar," lanjutku terisak.
"tenang, Za! Hantu itu tidak nyata! Itu hanya halusinasi! Percayalah," tegas Bunda. "sekarang kamu tidur dengan Bunda," ajaknya kemudian. Aku mengangguk lalu mengikutinya.

Sejak aku menonton film horror The Conjuring, Mama, serta Insidious, aku jadi penakut dan suka menyendiri. Sikapku berubah, benar-benar 100% berubah. Aku menjadi ... entahlah.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

"HUAAAA!" aku menjerit lagi ketika bangun tidur. "Hantu dalam film Mama! Hantu Mama! Aku melihatnya asli! ASLI!" aduku dengan nafas tak beraturan.
"Riza! Semenjak kamu menonton film horror, kamu benar-benar berubah dan Bunda merasakannya! Mulai sekarang, kamu ada dalam awasan Bunda," omel Bunda sekaligus khawatir.
"i... iya, Bun," sahutku terbata-bata. Bunda memelukku erat.
"maaf sayang, ini kesalahan Bunda karena tidak menjagamu," ucap Bunda disela-sela pelukannya. "sekarang, kamu siap-siap sekolah. Nanti telat, lho," sambungnya memerintah. Aku segera bergegas.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

"jadi, kamu benar melihatnya asli?" tanya Izta meyakinkan.
"benar! Aku sendiri bahkan tidak percaya," kataku menegaskan. "hantu itu seram! Dia ingin menerkamku, padahal seharusnya menerkam Lily...."
"itu hanya halusinasi!" bantah Erty. "jika kamu percaya pada Tuhan dan dirimu sendiri, kamu tak akan terteror hantu dalam halusinasimu. Jangan takut lagi, Za," jelas Erty.
"ta... tapi, aku tidak bisa, Erty... aku benar-benar di teror hantu setiap hari, setiap aku tidur, setiap aku terbangun dari tidurku,..." isakku kesal.
"jangan menangis karena hantu! HANTU TIDAKLAH NYATA!" amarah Erty tak bisa dipadamkan. Ia paling sebal dengan orang yang takut dengan hantu.
Aku terpaksa berbohong demi amarahnya. "aku tidak takut hantu lagi,"
"benarkah? Secepat itu kau terbujuk?" Izta meminta aku mengulang kata-kata.
"ya. Aku tidak takut hantu lagi," ulangku.
"oke. Kau meluapkan amarahku. Ingat pesanku, 'hantu tidaklah nyata'," Erty menegaskan kata-katanya. Aku menelan ludah. Bagaimana kalau aku ketahuan berbohong?
"BU TIRTA DATANG!" beri tahu Richard heboh. Semua anak berlari kebangku masing-masing, tak terkecuali Izta dan Erty yang duduk di bangkuku.
"jangan melupakan kata-kataku," tegas Erty.
"oke, oke. 'Hantu tidaklah nyata'," sahutku jengkel. Ah, Erty cerewet sekali!

Seorang guru datang dengan misterius. Kepalanya menunduk, dan memakai baju guru seperti jubah. Siapakah dia? Tunggu dulu. Dia bukanlah Bu Tirta!

"ssss.. say, grrr... greeting," perintah Irfan terbata-bata. Ia takut dengan 'guru misterius' itu.
"gggg... good, morrrr... morning," salam semua murid terbata-bata.
Aneh. Sosok 'guru misterius' ini tidak menjawab. Benar-benar aneh, tetapi nyata!
"eumh, excuse me. May i ask you something?" ucap salah satu murid kepada 'guru misterius' itu. Orang itu hanya mengangguk tanpa berkata-kata.
"kamu ingin mengajar apa di kelas ini?" tanya murid yang ingin bertanya tadi. 'Guru misterius' itu menggeleng.
"ngapain kesini kalau tidak mengajar?!" pekikku pelan ketakutan. "apakah dia hantu?"
"tidak. Tidak mungkin hantu! Lihat saja. Ada kaki menapak tanah," bantah Codi sambil berbisik.
"aku takut,..." gumamku pelan. Efek! Ini efek menonton film seram!
'Guru misterius' itu tampak berjalan ke arahku. Tiba-tiba, dia hendak menerkamku, dan...

~~~~~~~~~~~~~~~~~

"TIDAAAAAAAK!" pekikku kencang.
"RIZA!" teriak Bunda. "Riza! Kamu benar-benar sudah kelewatan! Kamu phobia! Bunda akan mengantarmu ke ahli pengatas phobia(tips:sorry, aku ngasal, hahaha)!" jerit Bunda.

Aku dan Bunda segera pergi ke tempat ahli pengatas phobia. Ahli pengatas phobia atau APP(baca:Apepe) adalah orang yang ahli dalam mengatasi phobia seseorang. Jika orang itu phobia dengan nasi, maka APP itu akan mengatasi orang yang phobia dengan nasi itu bagaimana pun caranya.

"Bun, are you serious?" tanyaku menegaskan.
"sure," sahut Bunda sambil tersenyum.

Tibalah kita, di tempat APP.

Canggih sekali tempatnya, gumamku.

"mau ke APP?" tanya salah seorang petugas.
"tentu saja," jawab Bunda lalu dituntun petugas itu.

Sampailah kita di tempat tunggu. Banyak sekali! Disana, mereka memakai baju bergambar phobia mereka, lalu dicoret gambar itu. Ada yang phobia dengan nasi, piring, bahkan baju! Ya Tuhan, aneh sekali orang-orang ini. Kata ibu anak phobia baju itu, jika anak itu memakai baju harus menutup mata agar tidak menjerit. Ck ck ck...

Aku pun diberi baju bergambar hantu kartun dan gambar itu dicoret. Semua itu di buat dalam waktu yang sangaaaat singkat. Benar-benar aneh, pikirku. Oh iya, aku mendapat nomor urut 21. Satu kata, yaitu; lama.

Berjam-jam kemudian...

"21!" panggil petugas penjaga ruang APP.
"Bun, it's time," delikku. Bunda santai dan tersenyum simpul.
"jadi, kau phobia pada hantu, anak manis?" tanya Mr. Phom, ahli pengatas phobia alias APP.
"ya, Mr. Phom. Sejak aku menonton film horror bersama teman-temanku," jawabku menjelaskan.
"hmmm," Mr. Phom bergumam, lalu berpikir sebentar. "Hantu dalam film itu tidak nyata, anak manis. Mari kutunjukkan pembuatan hantu seram itu," ajaknya lalu membuka laptopnya. Bukan laptop, melainkan lebih canggih.
"NOOOO!" jeritku kencang.
"sshh, tenang! Lihat!" tunjuknya. Disana, terdapat proses pembuatan muka hantu film Insidious(tips:aku ngasal lagi! wkwk). Orangnya hanya di make up!
"i... itu," aku menunjuk kepada hantu filmnya.
"ya. Hantu itu manusia," potong Mr. Phom.
"sementara, untuk..." Mr. Phom memutar kursinya. "film Mama, itu editan. Bahkan, saya bisa membuat hantu editan lebih seram!" gurau Mr. Phom. Aku mendesah lega.
"lihat, benar, kan? Jika kamu ahli, kamu juga bisa mengeditnya, anak manis," lanjut Mr. Phom. Bunda tersenyum ke arahku.
"sementara untuk film lain, Mr. Phom?" tanyaku kemudian.
"jika hantunya itu mempunyai kaki, hantu itu manusia yang di make up. Sementara untuk semacam hantu film Mama, itu editan. Sudah kubuktikan, bukan? Aku bahkan bisa mengedit lebih seram," jelas Mr. Phom sambil tertawa. Aku ikut tertawa. Aku juga bisa mengeditnya, kataku.
"kamu juga bisa mengedit dirimu bersama hantu, lho!" beri tahu Mr. Phom. Aku menaikkan alis. "tapi bukan waktu yang tepat, anak manis. Ini masalah phobiamu," lanjutnya.
"kalau hantu nyata? Semacam, ummm... pocong, atau yang lain?" tanyaku lagi.
"itu..." Mr. Phom kebingungan. "Aha! Aku pernah dengar. Jika kamu percaya dan kamu tidak takut, hantu itu akan takut kepadamu dan menjauhimu. Jika kamu takut, hantu itu akan mengganggumu," sambungnya sambil tersenyum lebar.
"tapi, menghilangkan rasa takutnya itu susah sekali, Mr. Phom!" bantahku.
Mr. Phom menyeringai lebar. "tidak sulit. Kamu hanya perlu percaya kepada Tuhan dan percaya pada diri sendiri, lalu hantu itu akan menjadi tidak nyata dalam kehidupanmu," ucapnya.
Aku terdiam mematung. Ah, itu benar! Persis seperti kata-kata Erty waktu itu. Aku menjadi tenang.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, anak manis?" tanya Mr. Phom lembut.
"aku merasa lebih baik! Aku tidak takut lagi!" seruku senang.
"benarkah?" tegas Mr. Phom
"benar! Terima kasih banyak Mr. Phom!"

~~~~~~~~~~~~~~~

"Mama... Mama..."

Terdengar suara menyeramkan dari TV. Oalah, ternyata film Mama!

"lagi menonton apa, Riza?" tegur Bunda.
"Mama, Bun. Kali ini tenang dan gak menakutkan!" jawabku sambil tersenyum.
"ingat kata-kata Mr. Phom, ya, sayang," ucap Bunda.

Mr. Phom benar. Hantu tidaklah nyata jika kita berani menghadapinya. Hantu akan nyata jika kita takut menghadapinya. Kau perlu ingat, hantu bukanlah sesuatu yang BENAR-BENAR nyata. Sekarang, aku suka menonton Horror Movie dan aku tidak takut sendirian di kamar lagi!

Monday, 7 October 2013

Cerpen : SMS Misterius

Hai All!
Aku buat cerpen lagi, nih! Cerpen ke... 3, kan? Kali ini cerpen yang kubuat adalah lomba di Event Facebook, tentunya lomba cerpen. Lombanya berhadiah buku KKPK. Sambil baca, sambil doakan aku menang, ya! Hehehe.. Oh iya, cukup tahu, bahwa ibu-ibu dan Mas Anto itu adalah kejadian nyata. Tapi, terornya enggak, kok.. kejadian nyatanya bahkan terjadi hari ini, lho! Ideku hebat, kan? Wkwk... Dan satu lagi, yang nyata cuma dari "Eyang," sampai "kembali ke rumah".

Finally, Wish Me Luck and Keep Reading! ^_^

SMS MISTERIUS

"Eyang, aku mau ke Mas Anto. Aku mau beli pulsa," pamitku lalu membuka pintu. Aku mengambil sepeda kecilku yang berwarna hijau, dan segera melesat ke Tukang Pulsa, Mas Anto yang bernama sama dengan nama ayahku. Aku sudah langganan disana.

Sambil membawa secarik kertas berisi nomor teleponku, serta uang sejumlah Rp30,000,000. Aku akan membeli pulsa sebanyak 25 ribu. Dihitung-hitung, banyak juga pengeluaranku bulan Oktober ini.

Kring... Kring...

Aku membunyikan bel sepedaku dengan nyaring begitu sampai di Toko Mas Anto. Disana, terlihat sosok ibu-ibu yang menatapku kepo dan tidak suka. Ufff, aku menghela napas pelan.

"Om, aku mau beli pulsa, dong!" ujarku begitu sampai.
"Pulsa apa?" tanya Mas Anto yang sedang mengetik.
"Mentari," jawabku singkat.
"Berapa?" Mas Anto menoleh ke arahku dan ibu-ibu menyebalkan itu.
"25 ribu aja, aku bayar langsung," sahutku lalu hendak menyerahkan kertas berisi nomor yang akan diisi pulsa. Ternyata, Mas Anto suruh mengeja. Ya, sudah, aku mengeja nomornya.

Aku merasakan keanehan di ibu-ibu itu. Saat aku membaca kertas, dia tampak sangat kepo dan menatapku hingga akhir aku pulang. Menyebalkan sekali!

"sok kenal," rutukku pelan saat beranjak pulang.
"makasih Om!" ucapku kepada Mas Anto, hampir lupa mengucap Terima Kasih kepadanya karena sudah mengisikan pulsa. Aku segera kembali ke rumah.

***

"Orang itu me-nye-bal-kan!" ceritaku di sela-sela telepon.
"ya, ya, ya. Aku tahu. Aku penasaran akan sosoknya," tanggap Rasha di seberang telepon.
"pokoknya...." kata-kataku terputus. "Ah, ada SMS. Nanti lagi, ya, Sha! Siapa tahu SMS penting, dari fans," kataku pamit dan sedikit GR.
"idiiww, fans? Mana ada yang mau nge-fans sama kamu, yeee," ledek Rasha.
"ihh, ada, dong." sahutku dengan jengkel dan berpikir, "Binatang," gurauku. Rasha tertawa terbahak-bahak.
"HAHAHA! Ya, sudah. Katanya ada SMS?" tanya Rasha yang masih tertawa.
"Oh iya, lupa aku. Oke, bye bye. HAHAHA!" aku menutup percakapan kami.

Huh, orang itu me-nye-bal-kan! gerutuku dalam hati. Aku kembali bicara tentang orang itu.

Ya, ORANG ITU, sosok ibu-ibu yang memperhatikanku ketat saat aku membeli pulsa tadi. Sekali lagi, ME-NYE-BAL-KAN! Eh, hampir lupa! Tadi, kan, ada SMS. Oke, karena terlalu kesal, jadi lupa, nih.

Hai Anak Kecil!
Kamu pasti hari ini sedang memakai baju Paris berbackground Putih dan Parisnya berwarna Pink dengan jeans berwarna hitam kebiru-biruan! Kamu juga tinggal di Komplek Intan Permata Jl. Permata I No. 6. Kamu juga anak kecil! Haha.. aku tahu karena aku tadi menemuimu! Tetapi kamu tidak tahu siapa diriku!

-PRIVATE NUMBER-

"HAH?!" aku menjerit seketika. Oh, Tuhan.. ada yang menerorku! Aku harus menghentikan dan menyelidiki teror ini! Sebagai hacker rahasia, aku mulai beraksi. Aku mulai membuka Private Number itu. Aha! Ketemu nomornya; 089876543210. Kena kau manusia misterius! Aku segera mengetik balasanku kepadanya :


Hai Orang Gak Jelas!
Oke, aku jujur. Aku gak tahu dirimu, aku hanya bertemu orang-orang yang aku kenal hari ini! Tapi, aku tahu nomormu dan TEROR PRIVATE NUMBER-mu telah berakhir karena aku seorang hacker andal. Aku bukan cracker dan aku adalah HACKER! So, jangan rahasia-rahasiaan lagi. Walaupun, siapa kamu belum terungkap.

-ORANG JELAS-

Oke, amarahku kambuh dan aku sedikit deg-degan. Hari gini masih neror pake Private Number? Capek, deh, cyiinn... cara orang itu, hmmm, cukup aneh menurutku. Dia tidak tahu bahwa aku seorang hacker andal yang bisa meng-hack Private Number. Ahaha! Jayus.

Ting Ting!

Sip, ini pasti si private number yang sudah terungkap! Olala, ternyata ayahku. Oke, tidak apa. Siapa tahu ada berita baik dari isi smsnya.

Nak, ayah pulang cepat. Sampai rumah ayah melihat kamarmu berantakan, awas saja.

Oh tidak, itu sebuah ancaman! Dan boleh jujur, aku orangnya malas. Malas dalam hal merapikan kamar. Maka itu, kamarku berantakan dan aku selalu tidur malam untuk membereskannya. Dan, berita buruk bagiku jika ayah pulang cepat! Mungkin itu berita baik bagi kalian semua, tetapi buruk bagiku! Arrghh, buruk banget-sekali!

Ada SMS lagi! Aku, kan, tidak membalas SMS ayah. Maka, oh... private number! Yeahaha... bertarung kembali kita.

Heh! Anak Kecil!
Jangan berani-beraninya melawanku, karena aku ORANGTUA! ORANG LEBIH TUA! Gak tau adab, kamu!

Whatever, dia orang yang lebih tua dariku? Sikapnya seperti anak-anak! Aku tidak peduli. Langsung saja kubalas,

Hei, ORANG-TUA GAK JELAS!
Aduh, aduh, aduh... ternyata orang-tua? orang yang-lebih tua? Fine aja, sih. Aku punya adab. Kamu yang gak punya adab, orang-tua. Sikap seperti anak kecil.

Termasuk mengejek, gak, sih? Ah, sudahlah. Yang penting, aku sudah membalas dia dan telah tahu nomornya yang tadinya private number. Menyenangkan juga menjadi hacker. Hack hanya dilakukan pada keadaan penting. Aku tidak menyalahgunakannya.

Aku merasa... oh, perasaan apa ini? Seperti menyelimuti pikiranku dan, noo...

***

Aku terbaring lemah di kasur. What?!

"Hai, Fira," sapa ayah lembut. Siapa yang memindahkanku ke kasur? Tanda tanya besar.
Aku hendak membuka mulut. Ayah yang tahu apa yang mau aku ucapkan, segera berkata, "iya, Fira. Kamu pingsan begitu lama. Entah dengan penyebab apa, tapi ayah menemukan kamu..." kata-kata ayah terputus. Dia menunjukkan SMS-ku dengan private number. Oh god! Ayah tahu itu!
"hei, ada SMS baru darinya..." gumamku dan segera merebut handphone-ku. SMS balasannya yang baru berisi :

Aku mengalah. Kamu hebat, kamu hacker dan tahu nomorku. Tapi aku merasa dilecehkan, karena aku adalah...

Tanda tanya. Oh, dia enter begitu panjang. Sampai akhirnya, aku menemukan kata yang sangat membuatku terkejut dan ingin pingsan lagi.

Ibu-ibu yang kau temui tadi di Mas Anto.

"GAK MUNGKIN!" teriakku lalu duduk dari tidurku.
"Ibu-ibu tadi itu siapa?" tanya ayah yang sudah baca semua SMS-ku dengan private number alias ibu-ibu itu.
"tadi... aku pergi ke Mas Anto, lalu saat aku membacakan nomornya, ada ibu-ibu dengan tatapan serius dan tidak suka melihat nomorku. Ugh, menyebalkan..." kisahku.
"oh, begitu. Kamu tidak sopan, Fira," nasihat ayah.
"lagi, ibu-ibu sok gaul pakai private number, pantas aku lawan! Aku pun tidak mengira private number itu ibu-ibu." sanggahku jengkel.
"private number? Numbernya terbuka, kok." Ayah bertanya-tanya.
"oohh, iya. Tadi aku meng-hacknya dan aku tahu nomornya sehingga aku dan private number alias ibu-ibu itu, adu mulut," jelasku.
"sekarang kamu tanya alamat ibu-ibu itu." perintah ayah.
"untuk apa?" tanyaku menggerutu.
"ayah ingin mengetahui sosoknya, siapa tahu teman ayah yang tidak mengetahuimu," ungkap ayah. Oke, segera aku tanya dan dapat!
"Komplek Intan Permata Jl. Permata III No.7," aku membacakan alamatnya. "dekat sekali, yah,"
"iya. Ayah akan menemuinya." ayah langsung bergegas. Oh, secepat itu? Sepertinya ayah niat sekali.

***

Tak lama, ayah kembali membawa seorang ibu-ibu. Oh, ibu-ibu tadi!

"Nak, ini teman ayah. Dulunya juga musuh ayah, dan ayah membencinya. Sama seperti kamu, membencinya," ayah memperkenalkan ibu-ibu itu.
"maaf, bu, saya berperilaku sopan," kataku meminta maaf dengan canggung.
"iya, tidak apa. Maaf meneror, hihihi..." ibu itu terkikik kecil. "Ibu Mira." dia memperkenalkan namanya.
"Fira," aku juga memperkenalkan namaku.
"ibu memperhatikanmu karena ibu sering melihatmu bermain volly dilapangan," ucap Ibu mira.
"oh, pantas saja," aku bergumam. Aku seperti pernah melihat ibu ini, dan ternyata dia yang sering menonton pertandingan volly-ku dan teman-teman.

Ah, lenyap sudah amarahku dan terungkap sudah kasus teror SMS Misterius! Dari teror ini, aku belajar untuk menahan amarah. Karena amarahku, Bu Mira jadi marah dan kami adu mulut. Eh, adu SMS! Oke, terima kasih ibu-ibu misterius!

Saturday, 5 October 2013

Cerpen : Misteri Foto One Direction

My 2nd Cerpen ;)
C^E^K^I^D^O^T

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku menatap langit-langit kamar yang dipenuhi poster. Terlihat jelas, tampak foto One Direction sedang tersenyum ke arahku. Tetapi, kali ini aku merasa senyuman One Direction itu beda. Padahal, jelas-jelas itu hanyalah foto One Direction belaka. Ah, mungkin hanya pikiranku saja yang kacau. Mana ada gaya foto seseorang bisa berubah? Ada-ada saja aku ini. Mungkin, ini hanya efek ketakutan karena di rumah sendiri. Huf, hilangkan rasa takut itu susah sekali. Aku terpaku sambil melirik-lirik seluruh kamar, khawatir ada sesuatu menerjang diriku.

Ya, hari ini, sore hari, aku sendiri di rumah. Aku tinggal bersama kedua eyangku, satu tanteku, dan ayahku. Ibuku kerja dan adikku tinggal di rumah nenekku yang berada di Bogor. Saat ini, kedua eyangku sedang menjemput tanteku sekolah. Ya, tanteku tidak normal dalam mentalnya. Jadi, dia bersekolah di SLB meskipun umurnya sudah tidak layak sekolah lagi.

Sendiri di rumah adalah hal paling menakutkan bagiku. Lebih menakutkan daripada film Slit-Mouthed Woman dan film Insidious. Film horror terseram bagiku. Film horror itu pula yang membuatku jadi takut di rumah sendiri, tapi memang aku yang penakut. Tapi, aku sangatlah labil. Dulu, karena aku ingin menonton film favoritku di TV, aku jadi selalu tidak ikut jika eyang menjemput tanteku. Dan, mulai saat itu juga, aku selalu tidak ikut menjemput tanteku. Padahal, dihitung-hitung peristiwa itu sudah berbulan-bulan yang lalu. Penakut sekali diriku ini, oh Tuhan.

Aku memberanikan diri untuk melangkah ke ruang tamu. Sedari tadi, aku hanya diam seperti patung yang bisa berkedip mata. Tiba-tiba, saat aku melangkahkan kaki ke ruang tamu, dilihatku sesuatu berwarna putih melayang-layang di tembok.

"HUAAAA!" aku menjerit sekeras mungkin. Tapi, aku tak bisa gerak! Kuputuskan untuk berbalik badan, lalu kembali ke kamar tanpa melihat sesuatu berwarna putih itu. Aku menghela napas ketakutan setelah menjerit sekeras itu. Mungkin, seisi komplek akan mendengar jeritanku itu.

Hantu! Pikiranku melayang. Itu pasti hantu! Apa lagi kalau bukan hantu? Hantu yang menggangguku saat aku sedang sendiri di rumah.

PLAK!

Aku mendengar suara "PLAK!" dengan kecil. Suara apa itu? Mengapa suaranya kecil? Aneh, tetapi cukup membuatku bergidik takut. Yang membuatku penasaran adalah mengapa suaranya kecil dan itu pasti bukan tepukan nyamuk dari luar.

Tin.. Tin..

Alhamdulillah, eyangku pulang! Suara klakson yang khas yang selalu kudengar setiap sore. Aku segera menyambut dengan gembira. Tapi.. mana mobilnya?

"AAAAAAA!" jeritku. Aku berlari ke kamar lagi. Suara klakson mobil orang? Hu-uh, membuatku menjerit kembali.

Tin.. Tin..

Kali ini aku tidak terlalu berharap. Aku tidak mau keluar lagi sampai eyang membukakan pintu, batinku.

Ternyata, itu benar eyang! Syukurlah kalau begitu. Aku benar-benar ingin menjerit senang.

"eyang, kok, lama, sih?" sambutku lalu menuntun eyang masuk.
"lama? Perasaan tidak, deh. Eyang hanya menjemput setengah jam. Biasanya lebih lama, kan, 1 jam." kening eyang berkerut.
"masa, sih?" tanyaku bingung. Mungkin, aku yang membuatnya lama karena terlalu takut.
"iya, yakin, deh!" jawab eyang meyakinkan.
"oh, oke. Aku masuk kamar, ya!" pamitku lalu berlari masuk ke kamar lagi.

Di ruang tamu, aku melihat ada kertas terjatuh. Jatuh persis di bawah tembok tempat sesuatu putih tadi! Hatiku kembali berdebar.

Aku memutar otak, berpikir.
"ini pasti yang menyebabkan bunyi PLAK!" gumamku.
"eh, ini juga sesuatu putihnya! Aha!" aku menjetikkan jari, riang dan masalah sudah terpecahkan.

Sambil bersenandung ria, aku kembali ke kamar. Sebentar, rasanya ada yang janggal. Sepertinya, tadi ada poster One Direction, sekarang, kok, tidak ada? Hatiku berdebar kembali.
ZahraRaraD_" target="_blank title="Follow Me on Twitter">